Pages

Senin, 04 April 2011

JoloTundo Trawas

Petirtaan Jolotundo PDF Cetak E-mail
Rasa penasaran seperti apa kondisi objek wisata ini setelah lebih dari 10 tahun yang lalu saya kunjungi, menyebabkan saya memaksakan diri meluangkan waktu buat mengunjunginya. Masih cukup melekat dalam benak, akan pepohon yang rindang, susana yang sejuk dan asri disertai gemericik air yang mengalir dari petirtaan jolotundo. Semoga belum banyak berubah, doa saya.

Kendaraan pun dilaju sedikit lebih cepat, melintasi jalan khas perbukitan dengan tanjakan dan kelokan yang acapkali memaksa diri untuk menekan pedal rem bila tidak ingin celaka. Tanjakan curam diujung perjalanan, mengantarkan saya ke lokasi wisata Petirtaan Jolotundo.

Dahi saya langsung berkerut melihat objek wisata ini sudah banyak berubah. Beberapa pohon tampaknya sudah ditebang untuk kemudian diganti dengan bangunan permanen berupa pendopo dan toilet umum. Suasana yang ada-pun tampak lebih tebuka tidak se-rimbun/rindang dulu lagi :( Dengan tempat yang lebih terbuka ini, kesan "sakral"-nya jadi jauh berkurang.

Beberapa pengunjung tampak mandi di dua bilik (pria dan wanita) yang tersedia di petirtaan tersebut. Sebagian orang nampaknya mempercayai bahwa mandi di petirtaan jolotundo ini menjadikan awet muda atau bisa menyembuhkan beberapa macam penyakit. Air yang dari kedua tempat pemandian tersebut nantinya menaglir keluar dan menyatu ke bagian tengah dalam bentuk kolam yang dipenuhi ikan-ikan. Meskipun jumlah ikan yang ada dikolam ini boleh dibilang banyak dan berukuran besar, tapi adalah hal yang terlarang untuk memancingnya.

Disekitar pemandian, nampak bongkahan batu situs berbagai ukuran telah dikumpulkan secara rapi dalam satu tempat khusus. Mestinya bongkahan batu tersebut merupakan bagian bangunan dari situr petirtaan jolotundo, namun karena belum diketahui bagaimana bentuk sebenarnya, maka proses rekonstruksinya belum bisa dilakukan. Beberapa diantara bongkahan tersebut, nampak coba disusun membentuk suatu bagian bangunan. Bekas pebakaran dupa disertai berbagai sisa bunga-bunga khas pedupa-an, nampak berserakan didepannya. Nampaknya ditempat ini masih banyak masyarakat yang melakukan tirakat ata semedi dengan maksud dan tujuan tertentu.

Secara umum objek wisata ini perlu dibenahi lagi agar mampu menarik kunjungan wisatawan. Fasilitas toilet yang ada nampaknya juga sudah mulai tak terawat dan berkesan kotor. Fasilitas permainan anak-anak yang tak jauh dari gerbang masuk tampaknya juga sudah tidak bisa digunakan lagi. Penambahan papan informasi maupun dalam bentuk booklet akan sejarah yang melatar belakangi keberadaan petirtaan Jolotundo ini, nampaknya perlu dibuat. Setidaknya keberadaan informasi tersebut akan mampu memberikan sedikit informasi dari pengunjung saat mencoba mengetahui lebih banyak tentang apa yang dikunjunginya di lokasi wisata ini.

Petirtaan jolotundo ini merupakan peninggalan tertua di Gunung Penanggungan yang diperkirakan berkaitan erat dengan Raja Airlangga. Sebenarnya di Gunung Penanggungan ini banyak terdapat situs candi, namun keberadaannya tersebar di berbagai lokasi. Dari petugas lokasi, diperkirakan terdapat 9 candi, namun perlu fisik dan stamina yang prima untuk mencapainya, mengingat candi-candi tersebut berada di lereng pegunungan. Sebenarnya saya pribadi ingin sekali mendatangi situs atau candi-candi tersebut, namun kedatangan kali ini yang membawa serta orang tua nampaknya tidak memungkinkan. Lain kali jika ada kesempatan lagi berkunjung kemari tentu saya akan mencobanya

Penulis : Silhouette
Fotografer : Silhouette
Lokasi : Seloliman, Trawas, Mojokerto
Sumber : Navigasi.net

Peta Lokasi :
Map data ©2011 Tele Atlas - Terms of Use
Map
Satellite
Hybrid

Jumat, 01 April 2011

SIKAP DAN PERILAKU REMAJA MASJID

Sebagai generasi muda muslim pewaris Masjid, aktivis Remaja Masjid seharusnya mencerminkan muslim yang memiliki keterikatan dengan tempat beribadah umat Islam tersebut. Sikap dan perilakunya islami, sopan-santun dan menunjukkan budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah). Pemikiran, langkah dan tindak-tanduknya dinafasi oleh nilai-nilai Islam.

Mereka berkarya dan berjuang untuk menegakkan kalimat Allah dalam rangka beribadah mencari keridlaan-Nya. Allah subhanahu wata’ala menjadi tujuannya, dan Rasulullah menjadi contoh tauladan dan sekaligus idolanya. Gerak dan aktivitasnya berada dalam siklus: beriman, berilmu, beramal shalih dan ber’amar ma’ruf nahi munkar, menuju kesuksesan dan kebahagiaan fid dunya wal akhirah.

Beberapa sikap dan perilaku praktis yang perlu diperhatikan aktivis Remaja Masjid berkaitan dengan aktivitasnya di Masjid, antara lain adalah:


1. Menyadari sebagai pemakmur Masjid.

Aktivis Remaja Masjid harus menyadari, bahwa mereka adalah generasi yang layak untuk memakmurkan Masjid bersama jama’ah muslimin lainnya. Orang-orang yang tidak beriman, tidak pantas untuk memakmurkan Masjid. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan Masjid-Masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. (QS 9:17, At Taubah)

“Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS 9:18, At Taubah)

Sebagai pemakmur Masjid, aktivis Remaja Masjid harus memiliki keterpautan jiwa dan raga yang sangat mendalam dengan Masjid. Kedekatan yang penuh kerinduan untuk beribadah di dalamnya, insya Allah, akan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang dilindungi.

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi perlindungan kepada hamba-Nya yang memiliki keterikatan dengan Masjid pada hari dimana tidak ada perlindungan, kecuali perlindungan-Nya.


2. Mengamalkan adab sopan santun di Masjid.

Masjid adalah tempat beribadah umat Islam, tempat yang suci dan dimuliakan karena itu ada adab (etika) tertentu yang harus diperhatikan oleh aktivis Remaja Masjid bila memasuki atau berada di dalamnya, antara lain:

a. Membaca do’a ketika masuk dan keluar Masjid.

Ketika memasuki Masjid, seyogyanya mendahulukan kaki kanan dan keluar dengan mendahulukan kaki kiri. Demikian pula, tidak lupa untuk berdo’a.

Dari Abu Humaid (Abu Usaid), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian memasuki Masjid, maka katakanlah, ‘Allahummaftahli abwaba rahmatika’ (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu), dan jika keluar, maka ucapkanlah, ‘Allahumma inni as’aluka min fadllika’ (Ya Allah, sesungguhnya aku benar-benar meminta keutaman-Mu)”. (HR. Muslim)

b. Mengucapkan salam kepada jama’ah yang ada di Masjid.

Bagi aktivis Remaja Masjid, menebarkan salam di antara kaum muslimin adalah tuntunan Rasulullah yang sangat indah untuk diamalkan. Saling mendoakan memohon keselamatan, kerahmatan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi sesama muslim, baik yang dikenal maupun tidak. Bahkan, memberi salam oleh yang muda kepada yang tua adalah sangat utama.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, kalian tidak akan beriman secara sempurna hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah (ucapkan) salam di antara kalian (apabila bertemu).” (HR Muslim)

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah engkau memberi makan fakir miskin, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang tidak engkau kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

c. Melaksanakan shalat tahiyyatul Masjid sebelum duduk.

Aktivis Remaja Masjid biasanya datang untuk keperluan mengikuti kegiatan atau melaksanakan shalat berjama’ah. Sekiranya kondisi masih memungkinkan atau iqamah masih lama dikumandangkan, sebaiknya melaksanakan shalat tahiyyatul Masjid.

Dari Abu Qatadah As-Sulami, Rasulullah shallallahu ‘alai wassallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian masuk Masjid, maka janganlah langsung duduk sebelum melaksanakan shalat dua raka’at. (HR. Bukhari dan Muslim)

d. Menjaga suara dan pembicaraan.

Ketika aktivis Remaja Masjid mengadakan rapat atau pembicaraan di ruang shalat atau ruang lainnya di seputar Masjid, hendaklah menjaga suara. Menghindari suara gaduh, berisik maupun tertawa dan bergurau melampaui batas. Bahkanpun ketika membaca Al Quraan, suaranya tidak boleh menggangu jama’ah yang sedang beribadah di dalam Masjid.

Demikian pula dalam pembicaraan, hendaklah memperbincangkan hal-hal yang baik dan membawa kemaslahatan pribadi atau jama’ah, serta menjauhi percakapan yang sia-sia.


3. Rajin melaksanakan shalat berjama’ah di Masjid.

Shalat berjama’ah di Masjid adalah tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, generasi terbaik dan sukses dalam mengemban misi da’wah Islam, yang patut diteladani. Mereka senantiasa menegakkan shalat fardlu dengan berjama’ah.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengancam akan membakar rumah orang-orang yang tidak mau berangkat ke Masjid untuk melaksanakannya. Hanya orang-orang munafik saja pada saat itu yang tidak suka shalat berjama’ah di Masjid.

Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Seberat-berat shalat atas para munafiqin, ialah shalat ‘Isya dan shalat fajar (Shubuh). Sekiranya mereka mengetahui apa yang dikandung oleh kedua shalat itu, tentulah mereka mendatanginya, walaupun dengan jalan merangkak. Demi Allah sesungguhnya saya telah berkemauan akan menyuruh orang mendirikan jama’ah beserta para hadirin, kemudian saya pergi dengan beberapa orang yang membawa berkas kayu api kepada orang-orang yang tidak menghadiri jama’ah shalat, lalu saya bakar rumah-rumah mereka, sedang mereka berada di dalamnya.”” (HR: Bukhori dan Muslim)

Abdullah Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Saya melihat semua kami (para shahabat) menghadiri jama’ah. Tiada yang ketinggalan menghadiri jama’ah, selain dari orang-orang munafiq yang telah nyata kemunafiqannya, dan sungguhlah sekarang di bawa ke Masjid dipegang lengannya oleh dua orang, seorang sebelah kanan, seorang sebelah kiri, sehingga didirikannya ke dalam shaf.” (HR: Al Jamaah selain Bukhory dan Turmudzy)

Selayaknya aktivis Remaja Masjid, khususnya yang putra, bersama Pengurus Ta’mir Masjid dapat menjadi contoh dalam menegakkan shalat berjama’ah bagi remaja muslim dan masyarakat di sekitar Masjid pada umumnya. Rajin dan tekun datang ke Masjid, menegakkan shalat fardlu dengan berjama’ah menurut kemampuannya. Sehingga, mereka berhak untuk memperoleh pahala yang berlipat dari amalan shalatnya.

Ibnu Umar r.a. berkata: “Bersabdalah Rasulullah s.a.w.: “Shalat jama’ah melebihi shalat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.”” (HR: Bukhory dan Muslim)


4. Berpakaian yang islami.

Berpakaian menutup aurat, sopan dan bersih adalah perilaku orang-orang yang beradab. Islam mengajarkan umatnya untuk berpakaian sebaik-baiknya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

Bagi aktivis Remaja Masjid ketentuan dalam berpakaian menurut ajaran Islam tentu sangat diperhatikan, di antaranya adalah:

a. Menutup aurat.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan alam ini guna memenuhi keperluan hidup manusia, termasuk diadakan-Nya bahan-bahan baku pakaian guna menutup aurat dan sekaligus perhiasan di dunia.

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS 7:26, Al A’Raaf).

Untuk aktivis Remaja Masjid putra, meskipun menurut sebagian ulama aurat laki-laki adalah antara lutut hingga pusat (menurut sebagian yang lainnya hanya aurat mughalladlah saja) bukan berarti bisa berpakaian seadanya dan seenaknya. Dia perlu memperhatikan kerapian dan sopan-santun dalam berpakaian. Ingat, pakaian adalah penampilan pertama yang akan dilihat orang lain.

Pakaian yang rapi, seperti baju koko atau gamis dipadu dengan celana panjang yang serasi adalah merupakan contoh bentuk pakaian muslim yang pantas untuk aktivis Remaja Masjid putra, khususnya ketika pergi ke Masjid.

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS 7:31, Al A’Raaf).

Perlu dihindari mengenakan pakaian yang menunjukkan kesombongan dan menyerupai perempuan. Memakai pakaian jean belel, berlobang sana-sini, lusuh dan penuh tambalan yang disengaja untuk menunjukan kenorakannya, apalagi ditambah asesori anting-anting di telinga dan hidung, jelas menunjukkan remaja yang tidak beradab. Dan, hal itu tidak selayaknya dikenakan para aktivis Remaja Masjid.

Sementara itu, untuk aktivis Remaja Masjid putri, pakaian yang harus dikenakan agak sedikit lebih komplek. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan para wanita yang beriman untuk mengenakan kerudung (khimar) dan jilbab ketika berada di wilayah publik (bersama non muhrim) dengan beberapa pengecualian.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24:31, An Nuur)

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS 33:59, Al Ahzab)

Dari kedua ayat Al Quraan tersebut, telah nyata kewajiban wanita untuk mengenakan kerudung (khimar) dan jilbab. Tidak ada perbedaan pendapat (khilafiyyah) di antara para ulama ahli fiqih Islam mengenai kewajibannya, baik yang salaf maupun khalaf. Kalau sekarang ini ada yang berpendapat, bahwa berkerudung dan berjilbab tidak wajib bagi wanita muslim ketika berada di wilayah publik (bersama non muhrim), pendapat tersebut terbantah dengan sendirinya oleh kedua ayat tersebut.

Husein Shahab menyimpulkan, bahwa persyaratan pakaian wanita menurut ajaran Islam adalah sebagai berikut:

a. Menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan.

b. Longgar, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh.

c. Terbuat dari bahan yang cukup tebal, sehingga dapat menyembunyikan warna kulit yang ditutupinya, dan sekaligus juga bentuk tubuhnya.

d. Tidak mencolok, yang sama artinya dengan memamerkan diri, sehingga menarik perhatian orang.

e. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

f. Tidak menyerupai pakaian orang-orang (wanita-wanita) non muslim atau kafir.


5. Menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan.

Akhlaq pergaulan aktivis Remaja Masjid putra dan putri harus menunjukkan kemuliaan. Di antara tuntunan Islam yang perlu diperhatikan dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah:

a. Menjauhi khalwat.

Aktivis Remaja Masjid putra dan putri harus menjauhi perilaku berkhalwat, yaitu menyendiri berduaan antara laki-laki dan perempuan. Bahkanpun, bila itu di dalam Masjid. Hal ini untuk menjauhi terjadinya fitnah di lingkungan Remaja Masjid dan godaan syetan lebih lanjut terhadap keduanya.

b. Menjauhi zina.

Zina merupakan perbuatan seks ilegal menurut Islam, perbuatan keji yang dapat merusak sendi-sendi kemasyarakatan. Aktivis Remaja Masjid harus menjauhi perilaku ini, karena menjatuhkan dalam perbuatan dosa, merusak kredibilitas, menghambat kemajuan hidup dan menyuramkan masa depannya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS 17:32, Al Israa’)

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS 24:2, An Nuur)

c. Perlunya pemisahan / hijab.

Untuk menjauhi terjadinya fitnah, dalam aktivitas Remaja Masjid perlu menjaga jarak antara aktivis putra dan putri, di antaranya:

- Adanya pemisahan kegiatan antara putra dengan putri.

- Sekiranya ada kegiatan bersama, hendaknya diadakan pemisahan tempat duduk atau ruangan yang digunakan.

- Diperlukan pemasangan hijab (pembatas atau tirai) untuk tempat yang sangat terbatas, agar tidak bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan dengan bebas.


6. Mengembangkan kepribadian yang menarik.

Sebagai bagian dari jama’ah Masjid, aktivis Remaja Masjid perlu menjaga hubungan baik dengan Pengurus Ta’mir Masjid, Pengurus Majelis Ta’lim Ibu-ibu maupun jama’ah Masjid lainnya, baik orang tua remaja maupun anak-anak. Untuk itu, perlu menunjukkan sikap-sikap yang terpuji dengan mengembangkan kepribadian yang menarik, di antaranya:

- Menghormati orang tua.

- Menghargai teman sebaya.

- Menyayangi yang muda.

- Tidak menyombongkan diri.

- Rendah hati.

- Mau membantu dalam kebaikan.

- Menjaga ukhuwah islamiyyah.

- Toleran terhadap perbedaan pendapat furu’iyyah-ijtihadiyyah.

- Saling nasehat-menasehati dalam kebaikan.


7. Rajin menuntut ilmu.

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Terlebih ketika masa remaja, menuntut ilmu adalah kebutuhan yang sangat mendasar guna mencapai kesuksesan di masa yang akan datang. Berdasarkan kewajiban untuk menuntutnya, ilmu sering dibedakan sebagai fardlu ‘ain dan fardlu kifayah.

Menurut Dr. Ugi Suharto, ilmu yang fardlu ‘ain di antaranya adalah ilmu-ilmu agama, sementara ilmu-ilmu yang lain adalah fardlu kifayah. Ilmu yang fardlu ‘ain fungsinya untuk diri kita, sementara ilmu yang fardlu kifayah untuk menyelematkan umat manusia. (Majalah “Hidayatullah” Mei 2005, hal.

Sebagaimana kajian yang telah kita lakukan di bagian pertama, tentang komitmen muslim dalam mengilmu Islam, maka ada beberapa jenis keilmuan yang sangat perlu untuk dipelajari oleh aktivis Remaja Masjid, di antaranya adalah:

- Membaca Al Quraan.

- Aqidah, syari’ah, akhlaq dan muamalah.

- Fikrah Islam, organisasi dan management.

- Keterampilan praktis kemampuan pribadi, seperti: public speaking, presentasi, negosiasi, musyawarah, meeting (rapat), teknik persidangan dan lain sebagainya.

- Komputer, bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Bagi aktivis Remaja Masjid yang masih berstatus pelajar atau mahasiswa, tentu tidak boleh melupakan belajarnya di sekolah atau kampus. Diharapkan mereka dapat sukses dalam menyelesaikan studinya. Sangat membahagiakan apabila mereka dapat berprestasi di bidang akademis, sehingga dapat menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya.


8. Berusaha terlibat dalam kepengurusan Remaja Masjid.

Seorang remaja muslim yang menjadi anggota Remaja Masjid perlu meningkatkan kemampuannya dalam berorganisasi. Dimulai dari mendaftarkan dirinya sebagai anggota, mengikuti pelatihan-pelatihan, terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, menjadi panitia dan pada akhirnya terlibat dalam kepengurusan Remaja Masjid. Tanpa menjadi Pengurus, dia hanya sekedar simpatisan atau partisipan saja. Kemampuannya dalam berorganisasi belum teruji dan kurang terasah dengan baik. Bakat kepemimpinan yang ada pada dirinya tidak dapat dikembangkan dengan sempurna melalui organisasi ini.

Karena itu, dia harus bersedia untuk terlibat dalam kepengurusan Remaja Masjid.Keterlibatannya dalam kepengurusan tersebut menjadikannya layak untuk disebut sebagai aktivis Remaja Masjid. Sehingga dia dapat menjadi kader organisasi yang memahami konsitusi, aktiv terlibat dalam kegiatan dan terbina fikrah Islam-nya dengan baik.

Dengan menjadi pengurus yang aktiv, dia sudah turut dalam perjuangan menda’wahkan Islam. Hal ini memberikan bekal, dan sekaligus kesempatan, yang sangat penting bagi keterlibatannya dalam kegiatan da’wah islamiyyah di masa datang yang lebih luas.

Setiap anggota Remaja Masjid perlu diberi kesempatan untuk menjadi Pengurus, tentunya dengan persyaratan-persyaratan mampu dicapai oleh mereka. Adanya persyaratan untuk menjadi Pengurus akan memunculkan budaya kompetisi yang positif, sekaligus sebagai ajang mencari kader terbaik untuk menjadi pimpinan organisasi. Di antara persyaratan yang perlu adalah: kemampuan membaca Al Quraan dan level pelatihan utama yang pernah diikuti (Basic, Intermediate atau Advance Training).